Inggris Keluar Uni Eropa Akibat Brexit?

Dalam perkembangan berita dan informasi terbaru dalam skala internasional menyatakan bahwa negara Inggris telah secara resmi keluar dari organisasi Uni Eropa setelah 43 tahun lamanya bergabung dengan organisasi di wilayah Eropa tersebut. Hengkangnya Inggris dari Uni Eropa tentunya menjadi kejutan besar bagi banyak dunia, maupun bagi negara-negara di kawasan Eropa lainnya. Selain mendapat sorotan dari aneka negeri luarnya, hal ini sendiri pun masih menjadi permasalahan bagi penduduknya. Sebagian besar jumlah masyarakat Inggris setuju akan keluarnya Inggris dari organisasi Uni Eropa. Namun sebagian lainnya juga menentang akan hal ini. Dimana perbandingan di antara kedua kubu tersebut hampir sama besarnya. Hal ini tentunya menjadi masalah besar dari bagian dalam yang harus diselesaikan oleh kerajaan Inggris itu sendiri. Belum lagi ditambah dengan kemungkinan faktor besar yang dapat menimbulkan pecahnya kesatuan Britania Raya akibat dari ‘keegoisan’ Inggris dalam memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut.

Pembahasan akan keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini dibahas sebagai topik kasus Brexit, atau Britain Exit dan dikenal juga sebagai keluarnya Inggris. Berita ini berkembang dan menjadi topik yang begitu panas diperdebatkan oleh banyak negara. Banyak orang dibuat penasaran dan menebak-nebak akan apa alasan sebenarnya dari keputusan Inggris untuk keluar dari organisasi yang setelah sekian lama berjalan bersama ini? Apakah terjadi suatu permasalahan atau kepahitan tertentu yang dialami oleh Inggris akan keberadaan Uni Eropa ini sehingga menimbulkan ia memutuskan untuk hengkang? Ataukah bahkan ada peran dari pihak ketiga yang secara tidak langsung membuat Inggris terpaksa untuk keluar dari kelompok rekannya ini?

 

Diisukan Membuat Inggris Pecah

Britania Raya sebagai suatu daerah yang dikuasai oleh Ratu Inggris sebagai pemimpin utamanya terdiri dari 4 negara, yaitu Inggris, Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara. Berita keluarnya Inggris dari kelompok besar Uni Eropa membuat Menteri besar dari negara Skotlandia yaitu Nicola Sturgeon menyatakan ketidaksetujuan. Nicola mengungkapkan bahwa hasil referendum ini hanya berdiri di atas landasan pemikiran sendiri yang egois sehingga secara demokratis tidak dapat diterima. Terlebih lagi dikarenakan alasan bahwa negara Skotlandia sebagai salah satu negara yang menjadi bagian dari Britania Raya dianggap masih memiliki hak untuk bergabung dengan organisasi Uni Eropa. Tindakan keluarnya Inggris dari organisasi itu akan membuat posisi Skotlandia berada dalam posisi yang canggung untuk terus menetap di kelompok tersebut. Terlebih lagi setelah bagian lain dari Britania Raya dengan terang-terangan keluar dari sana.

Dua orang mantan Perdana Menteri Inggris yaitu Sir John Major dan Tony Blair menyatakan bahwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini dapat memicu kerusakan secara besar antar negara bagi kesatuan dan keutuhan Britania Raya itu sendiri. Selain itu negara Irlandia Utara juga menerima dampak dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini. Martin McGuiness sebagai Wakil Menteri Besar Irlandia Utara juga turut menyatakan pendapatnya akan hal ini. Ia menganggap keluarnya Inggris dapat memberi dampak bagi Irlandia Utara bahkan secara sangat dalam hingga keseluruhan dari Britania Raya terkena dampaknya dalam bentuk harus memilih proses reunifikasi. Meskipun pendapat dari Martin McGuiness ini ditentang oleh menteri besar Arlene Foster yang mengatakan bahwa hal itu tidak akan mungkin terjadi.

 

Kejadian Akhir-Akhir ini

Kejadian yang belum lama ini terjadi yaitu suatu referendum yang diselenggarakan pada tanggal 23 Juni dimana menentukan Inggris untuk keluar atau tetap menjadi anggota dari Uni Eropa. Aneka macam orang memberikan suaranya dimana jumlah lebih besar mendukung Inggris untuk keluar dari Uni Eropa yaitu sebesar 52%, sedangkan pihak yang mendukung Inggris untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa hanya sebesar 48%.

Maka dari itu kejadian ini menimbulkan Inggris akhirnya memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa, dan hal yang sama juga diikuti oleh Wales. Sedangkan dua negara bagian dari Britania Raya lain yaitu Skotlandia dan Irlandia Utara tetap menjadi anggota dari organisasi Uni Eropa. Organisasi Uni Eropa itu sendiri sering dianggap sebagai pasar tunggal yang tidak memiliki aturan mengikat, sehingga dapat membuat para anggota atau orang disekitarnya apat berpindah dengan bebas tanpa ada hambatan apapun.

Dimana sebelum peristiwa Inggris ini, tidak ada negara anggota Uni Eropa yang pernah keluar dari organisasi itu. Hanya pernah ada suatu kawasan di Denmark yaitu wilayah Greenland yang mengadakan referendum tahun 1982 saat mendapatkan kebebasan otonomi yang membuat daerah tersebut memilih keluar dari organisasi Uni Eropa dengan angka perbandingan 52 yang berbanding dengan 48.

 

Dianalisa dalam koran Times, terdapat tiga alasan yang menyebabkan Inggris memutuskan untuk berpisah dari organisasi yang sudah disepakati bersama sebelumnya yaitu:

  1. Pihak Inggris ingin memberitahu kepada seluruh dunia bahwa keputusan dari keluarnya Inggris dari Uni Eropa ini untuk menyadarkan bahwa UE memiliki jangkauan kekuasaan yang begitu besar hingga berdampak bagi kedaulatan Inggris.
  2. Masyarakat Inggris yang mendukung akan upaya Brexit ini untuk diterapkan terjadi akibat dari gangguan dalam peraturan yang ditetapkan di Brussels, sebagai markas dari organisasi UE. Dimana aturan itu dianggap masyarakat Inggris dapat mencegah bisnis untuk beroperasi menjadi lebih efisien.
  3. Isu seputar migrasi juga menjadi poin penting bagi alasan dari pemanas yang memicu perdebatan akan Brexit. UE memiliki prinsip yang dianggap cukup bertentangan dengan kebijakan Inggris yaitu dalam hal pergerakan yang dapat dilakukan dengan bebas. Yang lebih jelas lagi menyatakan bahwa warga Inggris dapat memilih dengan bebas untuk tinggal dimanapun dan bekerja untuk negara manapun di dalam kawasan negara anggota Uni Eropa. Hal yang sama juga berlaku untuk para warga negara yang bergabung dengan organisasi Uni Eropa ini.

 

Upaya perpecahan ini semakin didukung dengan fakta 3 juta warga Uni Eropa yang tinggal di wilayah Inggris dan 1,2 juta warga Inggris yang tinggal di wilayah Uni Eropa. Dimana beberapa warga Inggris yang tinggal di negara anggota Uni Eropa yang disebut dengan istilah Briton sering mempermasalahkan kaum migran mengenai berbagai isu seperti jumlah pengangguran, upah yang rendah, dan rusaknya beberapa faktor penting lainnya bangi masyarakat luas seperti sistem pendidikan, kesehatan, bahkan mengenai kemacetan lalu lintas.

 

Dampak Brexit bagi Dunia

Ilustrasi mata uang populer

Negara Inggris merupakan salah satu mitra besar Amerika dalam perdagangan. Sehingga perubahan status keanggotaan negara Inggris akan Uni Eropa ini menimbulkan jurang ketidakpastian antara keamanan hubungan dagang yang ditempuh selanjutnya. Selain itu Brexit ini bahkan akan berdampak bagi perekonomian dunia serta ekonomi di antara wilayah Eropa. Dalam skala yang lebih kecil dan spesifik ke Indonesia, hal ini pun dapat mengganggu hubungan pertukaran pelajaran, lalu lintas perdagangan, pertukaran tenaga kerja, hingga mengarah ke bidang-bidang lainnya. Berbagai ketentuan yang sudah ditetapkan juga statusnya berubah menjadi tidak pasti akibat dari masalah kecil ini. Bagaimana pendapat anda akan hal ini?