Ekonomi Global Sedang Tumbang, Termasuk Uni Eropakah ?

Dari beberapa sumber yang ada, terdapatnya sebuah riset mengenai pertumbuhan ekonomi Global yang kian harinya kian amblas dikarenakan adanya pandemic dari Corona atau Covid-19 ini. kurang lebih tahun ini sekitar 2,5 % ekonomi Global akan isa amblas, bahkan bisa lebih tinggi daripada persen data tersebut jika memang benar penyebaran dari Pandemic ini tidaklah bisa terkontrolkan lagi. EIU atau Economist Intelligence Unit sudah memetakan adanya 5 resiko utama yang bisa mengancam adanya sebuah perekonomian global di tahun 2020. Dampak ini jelas pertamanya karena adanya sebuah Konflik dari Amerika Serikat dengan Iran yang berpengaruh pada ketetapan dari harga minyak yang ada. Lalu juga munculnya perang dagang antara AS dengan Uni Eropa yang memang memiliki resiko tinggi disbanding dari adanya sebuah penyebaran pandemic virus ini.

Untuk tahun ini EIU lantas memprediksikan adanya pertumbuhan ekonomi Global akan mendekati presentase 2,9% yakni akan mendekati level terendah dala 1 dekade terakhir ini. epidemic virus ini masih berlangsung dan menghambat adanya prospek pertumbuhan di Asia. Prospek dari pertumbuhan ekonomi global ini sendiri langsung didukung oleh adanya Moneter Ekstra Longgar ole bank sentral utama yang ada di dunia. Walau begitu adanya, kebijakan moneter ekstra ini juga akan memicu adanya krisis hutang baru yang ada di beberapa Negara berkembang diantaranya itu di Brazil, Turki, serta di Afrika Selatan.

Dilansir dari sebuah situs, EIU memberikan beberapa resiko utama yang akan mengancam adanya perekonomian Global termasuk di Uni Eropa ini sendiri. Yuk langsung saja cek selengkapnya di bawah ini.

Lonjakan Harga Minyak Meningkat Akibat Konflik AS Vs Iran

Berawal dari adanya serangan uara oleh Amerika Serikat yang langsung menewaskan Qassem Suleimani ( komandan pasukan elit Iran ). Dalam hal ini AS dengan Negara Timur Tengah ingin menghindari danya sebuah konflik yang memang dapat memicu lonjakan harga minyak yang ada d dunia. Namun, ketegangan yang ada di Negara Iran dengan Amerika Serikat ini membuat sebuah komunikasi diantara ke 2 nya ini memanglah semakin sulit lagi. Disini ada sebuah resiko tinggi yang bahwasannya Iran akan segera meluncurkan serangan terhadap keseluruhan Aset AS yang ada di Timur Tengah dalam beberapa bulan kedepan.

Untuk serangan ini bisa saja menyerang Negara seperti Yaman, Libanon, Suriah serta Irak. EIU ini juga telah menyebutkan adanya sebuah kemungkinan yang memang terjadi sebuah konflik militer akan langsung mengarah adanya peperangan diantara AS dengan Iran sekitaran 25%. Kondisi ini sudah pasti akan membuat adanya harga minyak dunia yang bisa melonjak ke level $90 untuk per barelnya. Dari sini bisa memicu adanya inflasi Global, lalu melemahkannya daya beli konsuman dengan dunia usaha.

Amerika Serikat Vs Uni Eropa Dalam Perang Dagang

Hubungan keduanya ini memang sudah memanas saat tahun 2018 silam yang dimana, AS telah meluncurkan adanya investigasi dari dampak Impor Mobil dengan adanya suku cadangan terhadap keseluruhan keamann nasionalnya. AS sendiri telah mengancam untuk menaikan adanya bea impor masuk otomotif yang menjadi 25%. Akan tetapi, ancaman ini kembali di Tarik.

Oktober lalu, AS pun mengenakan adanya bea masuk di sejumlah barang-barang Impor dari Negara Eropa yang memang diikuti seiring dari penyelidikan mengenai sebuah subsidi dari adanya Airbus. Lagi-lagi dalam hal ini AS akan melakukan pengancaman untuk menerapkan adanya sebuah tariff tambahan kepada Perancis dikarenakan, Negara ini telah menerapkan Pajak Layanan digital kepada beberapa perusahaan teknologi asal Amerika Serikat. Dan terakhir terdengar adanya kabar mengenai kesepakatan atas Green Deal yang dimana sudah membuktikan sebuah Kontroversi antara hubungan Amerika Serikat dengan Uni Eropa yang ada.

Jika nantinya Amerika Serikat ini akan menerapkan sebuah tariff tambahan pada Impor otomotif dari Uni Eropa ini, maka perekonomian di Uni Eropa ni akan memiliki sebuah dampak . seperti kasus ini yang dimana Industri Otomotif melakuakn penyumbangan sebesar 6% dari adanya total lapangan kerja yang berada langsung di Uni Eropa.

Jika nantinya Uni Eropa ini memang dipaksakan langsung dalam pembalasan kepada tindakan Amerika Serikat , maka akan memiliki sebuah resiko perang dagang yang cukup meningkat. Dari sini adanya sebuah konsumen dan juga dunia usaha yang nantinya juga bisa untuk merosot. Dalam hal ini EIU juga telah memperkirakan adanya sebuah peluang terjadnya perang dagang AS dengan Uni Eropa dengan presentase sebesar 25%.

Pandemic Virus Corona Yang Berdampak Ke Perekonomian Global

Dampak dari sebuah virus yang sampai saat ini sudah menyebar ke seluruh dunia memang sangatlah membahayakan posisi dunia, terutama pada sisi perekonomian. Memang benar adanya, dampak dari virus ini kepada perekonomian Global akan jauh lebih parah dibandingkan dengan pandemic terdahulu yakni SARS yang hadir di tahun 2003 silam. Disini peran dari Tiongkok terhadap adanya sebuah perekonomian dunia yang memanglah sudah bisa berkembang 4x lipat dibandingkan di tahun 2003 silam ini.

Dari sebuah lansiran para tenaga medis yang Profesional ini menyatakan adanya kondisi arurat kesehatan yang ada di Wuhan, Maret lalu 2020 sudah mulai terkendalikan. Dan saat itu juga pemerintah akan mulai untuk mencabut adanya karantina yang memang telah di tetapkan di beberapa daerah dan juga sejumlah aktivitas dari perekonomian ini bisa kembali untuk normal.

EIU sendiri juga sudah memprediksikan adanya  Pemerintah Tiongkok yang akan menerapkan sebuab stimulasi fiscal dan juga Moneter untuk bisa memulihkan adanya ekpansi ekonomi. Sehingga, disini juga ekonomi negaraPanda dan juga perekonomian dari Global ini memang akan pulih di Semester ll tahun 2020. Dan telah berdasarkan pada sebuah perhitungan EIU yang ada hanya 20% peluang dari Virus Corona yang akan jauh lebih bertahan lebih lama lagi dari tahun 2020. Dan untuk hal ini hanya akan ad data sebesar 5% saja yang berbentuk sebuh kemungkinan akan virus coron ini bisa jauh bertahan lebih lama lagi dari tahun 2020.

Dari sini jug bisa timbul disrupsi pada perdagangan global yang smekin terpuruk saja dengan rantai pasokan itu sendiri harus dilihkan dari Tiongkok ke Negara lainnya. Dari sini juga adanya beberapa Negara yang memang akan di prediksikan bisa menerapkan sebuah hmbatan tariff pada sebuah perdagangan Bilateralnya.

Konflik dagang antara Negara merika Serikat dengan Tiongkok ini sendiri memang semakin memanas saja. Jika nantinya Tiongkok tidak akn bersedia untuk memberikan sebuah komitmen Impor yang ad di bawah kesepaktan ini bisa jadi sejumlah eksportir Internasional akan mengalami sebuah tekanan finansial dikarenakan adanya sebuah penurunan permintaan dari Tiongkok dengan menekan langsung harg komoditas dan juga pendapatan dari ekspor itu sendiri.

Adanya sebuah krisi kesehatan public yang sudah berkepanjangan ini juga bisa menyebabkan adnya ancaman bagi stabilitas politik sertakeuangan yang berada di Tiongkok.