Misteri Tjipetir yang Terdampar di Eropa

Cipetir, nama sebuah desa kecil yang ada di Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini mendadak mulai mendunia. Butuh waktu sekitar hampir 1 abad bagi dunia untuk menemukan nama desa yang satu ini. Semua ini bermula dari balok yang memiliki tekstur kenyal yang sangat misterius bertuliskan kata ‘Tjipetir’ yang ada di tengahnya. Balok yang bertulisan kata Tjipetir itu ditemukan berada di bibir pantai yang berada di seantero Eropa. Tidak ada petunjuk apapun tentang benda yang sangat  mirip talenan tersebut pada saat benda tersebut ditemukan di bibir pantai di Eropa. Hingga orang yang bernama Tracey Williams, warga Inggris dalam pencariannya mungkin saja ia akan menemukan kemungkinan Tjipetir yang merujuk pada sebuah perkebunan yang lawas yang berada di kota Sukabumi dan kini nama kebunnya bernama Cipetir.

Tidak cuma hanya asal-usul dari Tjipetir. Belakangan ini juga sudah diketahui bahwa pada bahan dan pada kegunaan benda kenyal tersebut itu untuk apa sebenarnya. Benda persegi yang ada tulisan Tjipetir itu ternyata berasal dari getah yang ada di daun tanaman yang berjenis Sapotaceae, namanya gutta percha atau juga getah perca. Sebelum mulai adanya plastik, ternyata gutta-percha ini dulunya digunakan sebagai bahan untuk membuat bola golf, lalu untuk membuat hidung boneka teddy bear, membuat pigura, juga aksesori.

 

Pabriknya Masih Ada

Pabrik dan juga perkebunan karet lawas Cipetir ini yang menjadi tempat untuk mencetak lempengan-lempengan Tjipetir ternyata hingga sekarang itu masih ada hingga kini. Dan juga pabrik tersebut masih dapat menghasilkan masih berjalan sangat baik hingga sekarang ini.

Berdasarkan dari sebuah penelusuran data, pabrik Cipetir ini sudah berdiri pada tahun 1885-an. Ketika saat itu Nusantara ini masih menggunakan nama Hindia Belanda. Sisa dari kejayaan pada masa lampau pabrik karet yang memiliki kualitas dunia itu masih bisa kalian amati lewat bangunan yang sudah sangat tua yang ada di areal perkebunan milik PTPN VIII Sukamaju Sukabumi.

Namun ternyata pabrik Cipetir kini sudah tidak sejaya seperti pada masa dulu. Peminat mpo slot online semakin terus menurun. Hal ini dikarenakan pada popularitas getah perca sudah menurun, dan sudah dikalahkan oleh karet sintetis dan plastik.

Getah Perca Tumbuhan Asli Indonesia

Tanaman asal Tjipetir, yaitu gutta percha atau getah perca ternyata merupakan tumbuhan yang asli dari Nusantara yang sudah tersebar di Indonesia bagian barat dan juga bagian Semenanjung Malaya. Tumbuhan ini juga ada di terdapat di negara Australia, ada juga di Taiwan, ternyata juga tanaman ini sudah sampai ke Kepulauan Solomon.

Pohon getah perca ini biasanya akan memiliki tinggi hingga 30 meter dan memiliki diameter 0,5 meter. Batangnya memiliki bentuk yang tegak dengan memiliki warna merah kecokelat-cokelatan. Daun yang pohon ini miliki itu tunggal dengan memiliki bentuk yang bundar telur sungsang.

Tanaman getah perca akan tumbuh pada ketinggian antara 400 hingga 1.000 meter diatas permukaan laut atau mdpl. Dengan kelembaban yang dimilikinya itu berkisar 80% hingga 90%.

Getah Daun

Proses pada bahan baku untuk bisa memiliki bentuk seperti lempengan Tjipetir akan memakan waktu yang sangat panjang. Dalam sebuah film dokumenter, akan terlihat sejumlah para petani di Bumiputera akan memulai sebuah proses pada pembuatan getah yang lempeng tersebut dengan cara memangkas ranting dan juga memetik daun-daun yang ada di pohon. Daun-daun hasil dipetik itu lalu dikumpulkan jadi satu dalam karung dan akan ditimbang. Selanjutnya daun itu akan dibawa dari perkebunan lalu dibawa ke pabrik dengan menggunakan sebuah gondola yang akan melintasi pegunungan yang ada di sekitar sana.

Setelah tiba di pabrik, daun-daun yang barusan di petik itu akan langsung dikeluarkan dari dalam karung dan langkah yang berikutnya itu dimasukkan ke dalam mesin besar untuk di penggiling. Mesin besar itu akan berfungsi untuk memisahkan getahnya dari serat daun yang ada di daun tersebut.

Daun yang sudah hancur digiling lalu kemudian akan dicampurkan dengan air dan selanjutnya itu akan dipanaskan. Setelah air itu mendidih, airnya akan dituangkan ke dalam tangki flotasi. Lalu, hasilnya yang akan dipisahkan, untuk dicuci, dan selanjutnya itu ditekan di dalam mesin sehingga getah perca kuning yang akan diperoleh. Proses yang terakhir, bahan yang sudah diolah pada mesin tersebut ini akan dimasukkan ke dalam mesin yang ada cetak dan kemudian getah itu akan disebar ke seluruh dunia.

Miyazaki Maru

Tjipetir ini diketahui bahwa getah yang berasal dari Indonesia ini sudah pernah diangkut oleh kapal kargo yang dimiliki negara Jepang, yaitu Miyazaki Maru. Namun ternyata kapal itu diketahui tenggelam pada saat masa Perang Dunia I, mungkin saja hal itu yang membawa tjipetir itu sampai ke Eropa atau mungkin saja ada hal lain yang lain yang mengakibatkan benda itu sampai ke Eropa .

Miyazaki Maru ini mulai tenggelam sekitar 241,5 kilometer pada bagian barat Kepulauan Scilly kapal itu tenggelam pada tanggal 31 Mei 1917 kapal tersebut dalam pelayaran dari Yokohama ke London. Kapal selam U-88 milik Jerman akan bertanggung jawab atas tragedi tenggelamnya kapal tersebut yang pada saat itu sudah menewaskan 8 orang yang ada di kapal itu. Saat Miyazaki Maru tenggelam di laut, muatannya yang ada di kapal itu termasuk juga pada getah perca tumpah ke lautan dan terbawa oleh arus nya laut.

Lembaga pemerintah yang ada di Inggris, Receiver of Wreck juga berpendapat senada. Alison Kentuck, pejabat yang pada saat itu bertugas mendata kapal-kapal karam yang ada di wilayah Inggris Raya menyebut, bahwa ada dugaan kuat bahwa kotak-kotak getah perca itu berasal dari kapal Miyazaki Maru yang pada saat itu tenggelam di perairan laut.

Tjipetir ini 3 kali Keliling Bumi

Ahli kelautan yang bernama Curtis Ebbes Meyer menyatakan, bahwa balok Tjipetir ini bisa jadi sudah terapung di lautan selama berabad-abad lamanya. Meskipun pada temuan balok Tjipetir ini baru dilaporkan sejak 30 tahun lalu. Dan ada kemungkinan, bahwa balok-balok Tjipetir ini telah 3 kali mengelilingi Bumi karena terbawa ombak yang ada di lautan.

“Perlu waktu sekitar 25 tahun untuk sebuah benda yang mengapung untuk mengelilingi dunia. Dan pada benda Tjipetir itu mungkin saja sudah 3 kali mengelilingi Bumi karena waktu yang barang itu sudah lama dilaut,” ini yang dikatakan oleh Ebbes Meyer.

Pabrik Tjipetir yang Mendunia

Pada saat penjajahan dari Belanda, pabrik getah perca Tjipetir ini pernah mengalami pada masa jaya. Bahan baku berupa lempengan karet itu dikirim ke seluruh dunia yang ada pada waktu itu.

Diketahui Pohon karet yang ada di Sukabumi itu pertama kali ditanam sekitar pada tahun 1887. Kira-kira butuh waktu hingga 10 sampai 14 tahun sebelum pohon karet itu bisa dipanen.

Bahan baku pada getah perca langsung dibawa ke pabrik untuk pengolahan yang pada zaman itu berada dalam satu komplek. Peralatan yang dimiliki oleh pabrik tersebut terbilang sudah cukup modern pada masa itu. getah perca akan dicetak untuk menjadi sebuah lempengan dan akan dikirim sesuai dengan pesanan yang ada di seluruh dunia. Tidak lupa getah tersebut akan dicap ‘Tjipetir’.

Pada awal revolusi industri, kebutuhan pada getah perca ini yang paling utama untuk bahan pembungkus yang ada di kabel dan pada kebutuhan pabrik lain.

Kebanyakan para teknisi yang ada di pabrik Tjipetir adalah orang bangsa Eropa, yang akan tinggal dalam vila-vila yang sangat mewah. Sementara itu untuk kuli-kuli kasar yang berasal dari bangsa Pribumi yang pada saat itu Indonesia sedang dijajah oleh mereka. Hingga saat ini pabrik getah perca ini masih berproduksi dengan normal walau tidak sebesar pada masa jayanya semasa kolonial Belanda.